SEDIH MANA ANAK GAGAL RAIH CITA-CITA ATAU GAGAL JADI SHOLIH ?
https://risma-or-id.blogspot.com/2015/07/sedih-mana-anak-gagal-raih-cita-cita.html
“Jika seorang manusia mati maka terputuslah darinya amalnya kecuali dari tiga hal : dari sedekah jariyah, ilmu yang diambil manfaatnya dan anak shalih yang mendoakannya.”
Bukan sekali dua kali kita jumpai orang tua lebih bersedih jika anaknya gagal masuk sekolah-sekolah negeri, masuk Perguruan Tinggi Ternama atau Gagal masuk TNI-Polri. Bukan ingin mendiskreditkan sekolah Negeri, Perguruan Tinggi Ternama atau instansi Pemerintah seperti TNI dan Polri, hanya saja jika kita saksikan...mengapa mereka tak bersedih dengan kesedihan yang berkelanjutan jika anak-anak mereka belum bisa membaca Al-Qur'an, tak pernah mau melakukan shalat dan tak tau siapa Penciptanya, atau untuk apa mereka diciptakan ?
Sejenak berpikir cerdas. Status Pegawai Negeri-kah, anak sekolah negeri-kah atau Mahasiswa Perguruan Tinggi ternamakah yang membuat orang masuk ke surganya Alloh Ta'ala ? Bahkan banyak orang tua yang lama mencita-citakan anaknya bakal jadi seperti itu akhirnya-pun kecewa. Mereka tak kantongi investasi abadi yang memperberat timbangan amal menuju surga, justru mengikis dan memperberat timbangan dosa yang menghantarkannya menuju ke neraka. Na'udzubillahi min dzalik.
Berbanding terbalik, anak shalih bakal punya manfaat bagi dirinyajuga orang tuanya. Meskipun mereka tak menyandang predikat Pegawai Negeri, Tak sekolah di Perguruan Tinggi Ternama atau sekolah di instansi Negeri mereka bakal terus bersyukur dan qonaah dengan tetap mendoakan orang tuanya setiap rakaat shalat yang dilakukannya. Dan yang istimewa bagi orang tua, pun anak-anak tak meniatkan barang sekali perbuatan-perbuatan baik dan amalan-amalan ibadahnya mereka, orang tua akan menuai ranumnya amal sang anak lantaran semua adalah benihnya.
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Jika seorang manusia mati maka terputuslah darinya amalnya kecuali dari tiga hal; dari sedekah jariyah atau ilmu yang diambil manfaatnya atau anak shalih yang mendoakannya.” (HR. Muslim no. 1631)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sesungguhnya yang akan selalu menemani orang beriman adalah ilmu dan kebaikannya. Setelah matinya ada ilmu yang ia ajarkan dan ia sebarkan, begitu pula anak shalih yang ia tinggalkan, juga ada di situ mushaf yang ia wariskan atau masjid yang ia bangun, atau rumah untuk ibnus sabil yang ia bangun, atau sungai yang ia alirkan, atau sedekah yang ia keluarkan dari hartanya ketika ia sehat dan semasa hidupnya. Itu semua akan menemaninya setelah matinya.” (HR. Ibnu Majah no. 242. Al Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini dha’if. Syaikh Al Albani menyatakan bahwa hadits ini hasan)
Adapun sisi pendalilan bahwa amalan anak yang shalih akan bermanfaat untuk ortunya adalah dari ayat,
“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (QS. An Najm: 39). Di antara yang diusahakan oleh manusia adalah anak yang shalih. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sesungguhnya yang paling baik dari makanan seseorang adalah hasil jerih payahnya sendiri. Dan anak merupakan hasil jerih payah orang tua.” (HR. Abu Daud no. 3528 dan An Nasa’i no. 4451. Al Hafizh Abu Thahir menyataan hadits ini shahih).
Hal ini mengandung arti jika amalan dari anaknya yang shalih masih tetap bermanfaat bagi orang tuanya walaupun sudah berada di liang lahat karena anak adalah hasil jerih payah orang tua yang pantas mereka nikmati.
Jadi jika saat ini Anda bisa mengambil pilihan jangka panjang (jauh kedepan) dengan segenap konsekwensinya, "apakah Anda lebih sedih anak gagal meraih cIta-cita atau gagal menjadi anak sholih ?"
Wallahu waliyyut taufiq.
—
Disusun menjelang dzuhur di Mertoyudan, Kabupaten Magelang, 15 Ramadhan 1436 H
Penulis : Abu Bilal | www.ngaos.com

Bukan sekali dua kali kita jumpai orang tua lebih bersedih jika anaknya gagal masuk sekolah-sekolah negeri, masuk Perguruan Tinggi Ternama atau Gagal masuk TNI-Polri. Bukan ingin mendiskreditkan sekolah Negeri, Perguruan Tinggi Ternama atau instansi Pemerintah seperti TNI dan Polri, hanya saja jika kita saksikan...mengapa mereka tak bersedih dengan kesedihan yang berkelanjutan jika anak-anak mereka belum bisa membaca Al-Qur'an, tak pernah mau melakukan shalat dan tak tau siapa Penciptanya, atau untuk apa mereka diciptakan ?
Sejenak berpikir cerdas. Status Pegawai Negeri-kah, anak sekolah negeri-kah atau Mahasiswa Perguruan Tinggi ternamakah yang membuat orang masuk ke surganya Alloh Ta'ala ? Bahkan banyak orang tua yang lama mencita-citakan anaknya bakal jadi seperti itu akhirnya-pun kecewa. Mereka tak kantongi investasi abadi yang memperberat timbangan amal menuju surga, justru mengikis dan memperberat timbangan dosa yang menghantarkannya menuju ke neraka. Na'udzubillahi min dzalik.
Berbanding terbalik, anak shalih bakal punya manfaat bagi dirinyajuga orang tuanya. Meskipun mereka tak menyandang predikat Pegawai Negeri, Tak sekolah di Perguruan Tinggi Ternama atau sekolah di instansi Negeri mereka bakal terus bersyukur dan qonaah dengan tetap mendoakan orang tuanya setiap rakaat shalat yang dilakukannya. Dan yang istimewa bagi orang tua, pun anak-anak tak meniatkan barang sekali perbuatan-perbuatan baik dan amalan-amalan ibadahnya mereka, orang tua akan menuai ranumnya amal sang anak lantaran semua adalah benihnya.
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Jika seorang manusia mati maka terputuslah darinya amalnya kecuali dari tiga hal; dari sedekah jariyah atau ilmu yang diambil manfaatnya atau anak shalih yang mendoakannya.” (HR. Muslim no. 1631)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ مِمَّا يَلْحَقُ الْمُؤْمِنَ مِنْ عَمَلِهِ وَحَسَنَاتِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ عِلْمًا عَلَّمَهُ وَنَشَرَهُ وَوَلَدًا صَالِحًا تَرَكَهُ وَمُصْحَفًا وَرَّثَهُ أَوْ مَسْجِدًا بَنَاهُ أَوْ بَيْتًا لاِبْنِ السَّبِيلِ بَنَاهُ أَوْ نَهْرًا أَجْرَاهُ أَوْ صَدَقَةً أَخْرَجَهَا مِنْ مَالِهِ فِى صِحَّتِهِ وَحَيَاتِهِ يَلْحَقُهُ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهِ
“Sesungguhnya yang akan selalu menemani orang beriman adalah ilmu dan kebaikannya. Setelah matinya ada ilmu yang ia ajarkan dan ia sebarkan, begitu pula anak shalih yang ia tinggalkan, juga ada di situ mushaf yang ia wariskan atau masjid yang ia bangun, atau rumah untuk ibnus sabil yang ia bangun, atau sungai yang ia alirkan, atau sedekah yang ia keluarkan dari hartanya ketika ia sehat dan semasa hidupnya. Itu semua akan menemaninya setelah matinya.” (HR. Ibnu Majah no. 242. Al Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini dha’if. Syaikh Al Albani menyatakan bahwa hadits ini hasan)
Adapun sisi pendalilan bahwa amalan anak yang shalih akan bermanfaat untuk ortunya adalah dari ayat,
وَأَنْ لَيْسَ لِلإنْسَانِ إِلا مَا سَعَى
“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (QS. An Najm: 39). Di antara yang diusahakan oleh manusia adalah anak yang shalih. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ مِنْ أَطْيَبِ مَا أَكَلَ الرَّجُلُ مِنْ كَسْبِهِ وَوَلَدُهُ مِنْ كَسْبِهِ
“Sesungguhnya yang paling baik dari makanan seseorang adalah hasil jerih payahnya sendiri. Dan anak merupakan hasil jerih payah orang tua.” (HR. Abu Daud no. 3528 dan An Nasa’i no. 4451. Al Hafizh Abu Thahir menyataan hadits ini shahih).
Hal ini mengandung arti jika amalan dari anaknya yang shalih masih tetap bermanfaat bagi orang tuanya walaupun sudah berada di liang lahat karena anak adalah hasil jerih payah orang tua yang pantas mereka nikmati.
Jadi jika saat ini Anda bisa mengambil pilihan jangka panjang (jauh kedepan) dengan segenap konsekwensinya, "apakah Anda lebih sedih anak gagal meraih cIta-cita atau gagal menjadi anak sholih ?"
Wallahu waliyyut taufiq.
—
Disusun menjelang dzuhur di Mertoyudan, Kabupaten Magelang, 15 Ramadhan 1436 H
Penulis : Abu Bilal | www.ngaos.com